Persepsi

Gemuruh nan riuh, seperti barisan kuda perang yang tengah bersatu-padu. Lelahnya seperti tidak pernah terlihat, lari dan teriak hingga sampai di titik temu buat mereka dia di tempat. Teriaknya makin keras, peluhnya deras, semangat juang tidak pernah puas hingga kemenangan dapat diraih; buas.

Kelompok yang kian hari, kian banyak yang maju di garis depan. Mengumandangkan kalimat perang, “Berkarya saja dulu, bagus bisa belakangan!”; terang-terangan. Mereka tidak tahu apa yang dilihat sebagian pejuang yang tidak berpartisipasi, berjuang sendiri dengan hardik, caci, dan maki. Butuh uluran tangan menjemput hanya untuk membopong ke titik awal, setidaknya ia tidak menyerah.

Kesiapan mereka di tanah lapang, di jamu dengan mereka yang tengah menyiapkan diri di balik hutan. Gerilyawan perang, pihak oposisi yang berjuang dengan bayang hitam. Tidak terkenalkan, tidak terpublikasikan pada sesamanya. Berjuang sendiri, caci, maki tiada henti. Hingga kemudian ahli, direkrut pihak oposisi. Ya, mereka orang yang sama. Termakan propaganda, namun hanya sebatas ucap semata.

Ini ajang pembuktian, yang lemah dengan ramai dengan ucapan. Lemah dengan tekad yang ditanamkan. Prajurit yang hanya sebatas ucap namun tidak membuat diri semakin baik seiring waktu, juga para pencaci yang hanya berani melempar kerikil dari balik batu. Sedang mereka para garis depan akan terus hidup, dengan banyak luka yang bawa mereka menuju negara yang baru, menyatu, bersatu.

Advertisements

Menang?

Hadir dan memulai pertemuan dalam kebersamaan, aku dan kalian memulai semua dari titik yang sama. Berbagai wilayah dan propinsi. Latar belakang yang berbeda tanpa selisih. Tahap baru, aku dan kamu, pada pijakan ruang dan waktu yang sama; menyatu. Mempelajari hal-hal yang dirasa seperti berkenalan dengan ruang lingkup orang dewasa. Tidak bisa dikatakan terlalu dini bila dilihat usia, namun adaptasi yang masing-masing orang punya tidaklah sama. Cepat ataupun lambat, semua menua.  Continue reading “Menang?”

Ini sudah hampir siang

Tirai yang sengaja dibuka karena cara lain sudah tidak ampuh untuk membangunkan. Wanita dengan pakaian dalam berwarna putih yang entah sejak kapan menemani. Menyilaukan, setidaknya itu yang dirasa walau kedua mata masih terpejam. Sakit, peristirahatan yang teramat sangat kurang. Sepertinya baru satu jam terlelap, namun pagi tiba-tiba saja menjelang. — Sial.  Continue reading “Ini sudah hampir siang”