Kehadiran yang dirindukan

Hai kalian, hihi. .

Maaf aku tertawa terlebih dahulu sebelum kuutarakan apa yang ingin kubagikan, hanya saja memang terasa menggelitik sampai-sampai aku tidak dapat menahannya.

Kelakuanku dimasa ini, disaat orang lain sibuk memikirkan bagaimana mereka lulus, bekerja, atau merintis usaha agar dapat melanjutkan kehidupan pada langkah berikutnya, aku malah memikirkan hal yang seperti ini nak. Maafin tata ya, hihi. .

Yap, aku ingin mengungkapkan isi hatiku perihal kalian. Entah kaliannya ada berapa nanti, kalian tetaplah anugerah dari-Nya untukku. Entah kau yang lelaki, yang menjadi pemimpin menggantikanku kelak. Atau kau yang perempuan, yang selalu mengingatkanku pada ibumu saat dulu kala. .

Entah sepasang? Dua pasang? atau enam laki-laki gagah yang diimbangi dengan kelembutan seorang perempuan? Tetap saja membayangkannya terasa menyenangkan, hihi. Lagi-lagi aku tertawa. .

Iyap, ini perihal kerinduanku kepada kalian. Membayangkan saat pertama kali aku diberi tahu bahwa ibumu hamil dengan tanda dua garis sejajar yang saling tatap dijalan. Seperti layaknya ibumu yang merasa menjadi wanita sempurna saat menjadi seorang ibu, bahagiaku tidak kalah hebatnya saat mendapat kabar bahwa aku akan menjadi seorang ayah, nak. Ku siarkan dengan lantang, juga terselubung bahwa aku amat sangat bahagia. .

Mungkin ibumu akan keheranan, saat dimana awalnya aku mulai mencintainya, kemudian ia merasakan perubahan terhadapku yang aku juga alami. Karna katanya memang demikian, setelah lama menjalin hubungan, satu persatu akan terlihat tabiat aslinya. Yang jelek hingga buruk, kemudian biasa saja. Dan kemudian timbul rasa seperti tidak ingin melepaskannya. .

Menggenggam erat tangannya, menemaninya saat ia ingin bepergian karena bosan dirumah. Aku sama sekali tidak peduli bila ada tatapan yang kurang mengenakkan tertuju padaku, namun akan aku jawab bila ada pertanyaan yang diajukan pada kami, semisal seorang anak yang keheranan dan polos bertanya, “Pacarnya yah?”. Aku hanya bisa tersenyum, menjawab dengan nada sedikit keras bahwa, “Ini Istriku, dia sedang hamil, hihi. Kamu mau punya adik laki-laki atau perempuan?” sembari mengelus perutnya dihadapan banyak orang. Tatapan itupun menjadi kebahagiaan yang tersebar luaskan, hihi. .

Melarangnya untuk membawa barang-barang yang berat, walau ia memaksa. Beralasan bahwa aku masih kuat. Padahal peluhku sudah bercucuran, namun yang ia bawa lebih berat dari beban yang dipikulku bukan nak? Membawamu kemanapun ia pergi, selama sembilan bulan penuh tanpa henti. Yap, aku akan bersikap seegois mungkin saat itu. Saat dimana aku ingin menjaganya, juga menjagamu. .

Hmm, bahkan bertekuk lutut agar aku dapat mencium, merasakan hentakkan kaki diperut ibumu? Yang mungkin saja itu pertama kalinya aku sampai demikian, menyerahkan diriku seluruhnya untuk menyayanginya, menyayangimu. Entah bahagianya seperti apa saat aku melakukannya. Yang padahal mungkin saat itu baru saja mendapat kabar bahwa ia hamil. Tidak mungkin ada hentakkan darimu bukan? Yap, aku amat sangat tidak sabar untuk menanti, hihi. .

Terlalu sering air mataku jatuh, melihat seorang laki-laki muda yang amat sangat senang saat menaruhmu dilehernya. Mengarahkan tanganmu untuk memegang rambutnya. Kaku, namun berusaha lembut saat memegangmu agar tidak jatuh, kau tidak merasa tersakiti. Melompat-lompat berusaha agar ia mendapatkan tawamu, seraya berkata, “aku sempurna”. Betapa bahagianya, hihi. .

Terlampau sering air mataku jatuh, saat melihat mereka yang telah dikaruniai malah sibuk dengan ponsel mereka sendiri. Melihat mereka memanggil, berteriak kepada sesuatu yang mereka lihat, menarik pakaian ayah dan ibunya agar ikut menyaksikan apa yang ingin kau tunjukkan pada mereka. Hingga akhirnya mereka lelah sendiri, memilih untuk diam, karena dengan begini ayah dan bundanya akan sayang dan menilai bahwa mereka itu anak yang baik, dan patuh, tidak rewel.
Apa aku juga akan begitu ya? Aku amat sangat tahu bahwa kalian ingin diperhatikan, sebentar saja. Jangan takut untuk mengingatkanku bila aku mulai lupa untuk bersyukur atas apa yang Dia titipkan pada kita ya, sayang? .

Lupa akan rasanya setiap waktu mencoba melihat hasilnya, menunggu hingga garisnya muncul kepermukaan. Sendirian. Sempat oleng motorku dijalan, dengan kecepatan tinggi ketikan memikirkan.
Pecah tangis ibumu, aku juga ingin demikian. Namun, ada dirimu yang harus ku tenangkan. Mungkin memang belum saatnya kita memilikinya. Ia masih menilai kita kurang siap atau belum mampu untuk dititipkan-Nya. .

Terlalu banyak rasa yang sulit aku ungkapkan dengan aksara yang amat sangat kaya, hingga kalian menilaiku seorang ayah yang kaya akan kosakata. Saat ini aku hanya ingin kalian tau, bahwa terlalu sayang diriku pada kalian bahkan sebelum mencoba membuatnya. Sayangku, teramat sangat pada kalian. .

Tata-mu. .

Advertisements

2 thoughts on “Kehadiran yang dirindukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s