Senja Dua Fase

Gelapnya perlahan berlalu, pekatnya pun ikut tidak terlalu. Keheningan malam yang teduh pun menyambut hari baru. .

“Semangat, sayang”,
Sapanya setelah habis wajahku oleh kecupan yang membangunkan dari tidur. Entahlah sejak kapan kebiasaan itu dimulai, namun aku baru sadar akhir-akhir ini.
Dengan wajah mengantuk, aku hanya menatap balik wajahnya yang dipenuhi senyum dengan mata yang masih terpejam. .

Oranye berangsur keemasan, didominasi biru muda yang muncul dari arah kanan. Seperti pancaran semangat yang coba dialirkan untuk hari ini selama aku pergi meninggalkan untuk mencari rezeki demi berlangsungnya kehidupan.
Terlihat menyenangkan, namun disisi lain seperti tidak ingin ketinggalan. Haruskah aku melewatkan? .

Waktu pun berlalu, delusi pun berganti. .

Oranye berangsur kemerahan, didominasi biru tua yang hadir dari arah berlawanan. Layaknya penenang dikala sirine saling bersautan selama perjalanan kembali ke pangkalan.
Amat menenangkan, bilamana setiap orang tidak ugal-ugalan hanya karena melihat tujuan untuk segera sampai ke dekapan.

“Sayang Pulang!”,
Sambutnya setelah berlari menghampiri, menangkapku dalam pelukkan. Teramat menyenangkan saat kembali kerumah namun lelah itu hanya diluar, tidak sampai masuk kedalam.
Wajah lelah nan sayu setelah seharian menjaga amanah yang dititipkan, namun masih semat membahagiakan sebelum akhirnya bercerita panjang lebar mengenai hari ini. .

Teriknya hari perlahan berganti. Dari panas menjadi, berubah sejuk penentram hati yang semula gusar tidak peduli. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s