Ternak lele, sana

Tatap itu penuh dengan semangat, sebuah pencapaian akan perjalanan yang telah ditempuh cukup panjang. Tangis hingga tawa bila kembali diingat. masa dimana semua masih dalam tahap berjuang. Mencoba mengenali setiap hal yang diberikan, baik dari yang sekolah ajarkan, maupun pengalaman. Mencoba memahami situasi yang tak terkendalikan. Mencoba mencari pemecahan dari setiap masalah yang ditemukan.

Ya, terlalu panjang rasanya waktu sebagai seorang dengan status anak-anak yang diemban. Terlalu berlebihan? Begitulah sepertinya yang dirasakan. Aku dan kawan, akan dilepas ke sebuah tahap baru dalam kehidupan. Kebersamaan yang tiada tergantikan, katanya? Sinis.

Semangat yang tidak terkalahkan, dimana setiap perencanaan telah matang dan mantap untuk kemudian dijalankan, demi meniti kesuksesan. See you on top, teman! Kalimat tidak langsung bahwa akan ada lagi pertemuan setelah menggapai mimpi dan harapan, dari airmata yang jatuh karna sadar ini adalah sebuah perpisahan.

Esok pasti kan menyenangkan!

Hari yang dinantikan, hari dimana semuanya akan kembali dimulai perlahan, sendirian. Hari yang menentukan kemana langkah kita kan berpisah tujuan. Menanti surat dari petugas atau bahkan menikmati setiap cangkir kopi mununggu jam dua belas malam. Namamu tak terdaftarkan.

Mau apa sekarang? Padahal ini jalan terakhir yang telah diusahakan. Berharap dari nilai maupun kesempatan lain untuk kembali ujian. Jangan memberi pilihan untuk kembali belajar dengan biaya yang tidak memungkinkan, status kini bukan lagi anak yang minta dimanjakan.

Semua kini terasa hancu berantakan, tidak ada masa depan lagi masa depan yang mencerahkan hari-hari seperti saling lempar tangkap senyum dengan teman.

Ya, perasaan setiap insan yang kecewa karena telah pupus harapan. Wajar bukan? Hanya saja, rasanya terlalu cepat untuk dirasakan. Benar demikian? Atau memang dari diri ini yang tidak memiliki kesiapan? Padahal memang ini masanya.

Banyak yang berkicau, dari yang diterima oleh perguruan tinggi, maupun alumni, bahkan adik kelas kami. Ternak lele aja sana.

Pedih rasanya saat memang kesempatan itu hilang, namun bukan jadi alasan. Bisa saja mencoba lagi tahun depan?

Waktu terus berjalan, dan kau harus terus melanjutkan kehidupan. Entah apapun rencanamu sekarang, namun jika hanya dilalui sesal tetap saja waktu berkurang bukan?

Satu hal lagi, berjuang, belajar, dan kelulusan tidak terhenti pada jenjang sekolahan. Selama jantung itu masih berdentang, selama itu pula harus tetap diteguhkan untuk meraih satu demi satu tahap kehidupan.

Lihat kedepan, mungkin saat ini terlihat kawan tengah berlari meraih impian. Dan kau? Tersungkur jatuh tersandung batuan. Kembali berdiri, belajar, dan berjalan perlahan. Suksesmu kau yang tentukan. Walau tidak secepat mereka namun pastikan saja kedua kaki dan tanganmu berjalan, atau bahkan merangkak ditepian, karena takut akan ada rombongan lain yang tengah berlarian dan kembali jatuh karena bersenggolan.

Percayalah, tujuan itu tetap berada ditempatnya dan langkah itu tetap menuju kearahnya. Dengan demikian, perlahan, tetap saja sampai pada kesuksesan.

Dan percayalah, ternak lele tidak seburuk yang dibayangkan. Bahkan banyak yang lebih sukses dari orang-orang yang bekerja kantoran.

 

2 thoughts on “Ternak lele, sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s