Miliki aku,

Hujan badai tidak memungkinkan untuk kembali. Bukan lagi rintik, payung tak dapat hindari. Terlalu larut, bahkan sudah hampir pagi. Berdiri dipinggir jalan gedung nan tinggi. Lihat sekeliling nampak senyap, sepi. Hanya aku, dan seorang gadis, ‘disini’. .

Dingin, menggigil tubuhku dengan jaket gelap berkerah. Terlebih dia, tertutup, kuyup. Sedikit pancaran lampu jalan sedikit menghangatkan, namun tetap terlalu dingin untuk bertahan. Dalam gugup, dengan kunang-kunang di kepala. Aku atas badanku hampir tidak lagi punya kuasa. Apalagi dia, deras teguk ke dalam tubuh merasuk.

.

Dalam lamun akan ragu, seketika terjaga. Lambaian tangan tanda ajak tuk ikut kesana. Tidak lagi kuat untuk tetap berdiam di beranda. Pemesanan ruang dengan tambahan ranjang tiada. Hanya dengan satu ranjang ratu tersisa. Tertangkap sinyal, tidak masalah baginya. Langkah gontai berjalan masuk. Tidak peduli sekitar, namun masih tetap sadar.

.

Tidak seperti kamar biasanya, amat kental aroma tiap sudut. Tetes air hujan tercampur peluh, gugup. Basah tubuh tak buat pilihan, mau tak mau berdua berbalut handuk. Kepala mulai goyah setelah terduduk. Dua insan tekulai, memeluk.

.

Mimpi itu terasa nyata, lemah menggelinjang diri terpana. Terbangun dan sadar bahwa itu bukan fana. Wajah memerah menggenggam alat senggama. Tersemat senyum, disini kita berdua. Tak kuasa meminta berhenti, terlalu sibuk gigit jari.

.

Wajah sesal tersemat, wajah itu mendekat. Tau perlu risau, ini pertama untuknya. Kian lama, terbawa. Mulai mencoba, meraba pelan tengkuk hingga dada. Tak disangka, disini kah awal mula. Bibir itu mengecup penuh manja, lembut terasa.

.

Binal menerjang, ia kejang. Tengkuk hingga dada bidang, tak luput kecup kasih sayang. Terdengar memalukan, ia mengerang. Tindakkan diambil, alih kendali. Tak ingin kehilangan harga diri sebagai lelaki.

.

Sejak di kelab terhirup aroma, tengkuk itu terasa menggoda. Perlahan namun pasti, bibir itu mendominasi. Tangan wanitanya terpatri, terikat keatas entah sejak kapan bertali. Tanpa perlawanan berarti, atau bisa dibilang penyerahan diri.

.

Raba, kecup, hingga kulum setiap lekuk tubuh. Berdesir, berdesis, terasa penuh. Tersorot mata pinta tuk ‘segera’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s