Jangan kira ini kamu

Hai? Boleh ku tau alasan kita dipertemukan?

Semua seperti kilat yang menyambar, cepat dan berlalu begitu saja. Aku sendiri tidak paham sampai sejauh ini hanya untuk berlari mengejar setiap hal yang tidak kunjung dimiliki. Bertaruh untuk menentukan garis yang dipilih, tidak meminta bukan berarti sombong. Hanya saja terlalu sederhana, aku ingin mereka bahagia dan aku juga bahagia. Semuanya hanya sementara bukan?

Tidak ada yang salah, setiap detiknya berjalan baik-baik saja. Aku menikmatinya dengan amat sangat, perlahan namun tetap berjalan. Tidak masalah mereka bilang aku akan menyesal bila terus menerus mengambil langkah satu senti sedangkan yang lain melompat. Semua sudah diatur. Aku juga senang melihat mereka ada diatas. Mereka bahagia, dan aku pernah bersamanya.

Mereka semua baik seperti keluarga, setiap masalah yang dihadapi saat ini ya untuk sekarang saja. Suatu saat pasti berlalu dan mari kita tertawa selagi duduk di satu meja. Cerita hanya sekedar cerita, berbagi kisah dan belajar. Dari sana kami hidup dengan normal.

Belajar dari pengalaman itu guru yang tidak pernah marah, tapi sedikit contekan dari pengalaman orang lain itu juga sah saja. Ujian mereka nilainya rendah, belajar dari soal yang ada, dan nilai kita sedikit lebih tinggi. Itu baik.

Dan tahukah? Siapapun dia, selama dia baik tidak masalah untuk berteman. Terserah dia mau melakukan apa, salah sehebat apa selama ada niat untuk berbuat baik kenapa tidak ditemani? Mereka juga benci disendirikan. Dan setiap perubahan itu karena dibimbing bukan ditinggal, ya kan?

Perihal kepribadian, lagi. Pernahkah mendengar istilah adaptasi? Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Berteman dengan pemabuk, bukan berarti aku mabuk. Hanya saja mungkin istilah berteman dengan penjual ikan tercium amisnya juga. Aku tidak menyalahkan.

Asing? Ya, bukan aku. Bukan cara ku mengenali keyakinanku. Lihat sekitar, dunia luar indah menurut pandanganmu bila berpegang teguh pada pedoman. Tentu saja, aku pun tidak menyangkal bahwa kehidupan telah dijelaskan seluk beluknya agar dapat hidup dan bertahan. Tapi, mari kita pikirkan sejenak. Sekali lagi, walau aku lelah. Kepribadianku dibentuk oleh lingkungan. Salah satunya namun tidak menyeluruh.

Semua berjasa membawaku hingga saat ini kita bertemu, dan secara mendadak dengan halus berkata mereka bawa pengaruh yang kurang baik. Kurasa tidak adil, hanya karena ku perlihatkan sebagian dan kau nilai secara keseluruhan. Dan sepertinya yang ini tidak perlu dijelaskan, kau lebih tau dariku. Rahasiakan amalanmu seperti menyembunyikan dosamu. Harus kah sema diumbar saat menuutku memang semua dirasa tidak perlu.

Dan lagi, pembelaanmu bahwa tidak semua hal buruk yang diucap itu benar dan hal baik itu salah. Tapi nyatanya kau melakukannya terhadap orang lain. Haruskah selalu ku patahkan argumenmu? Tidak, aku tidak punya hak untuk itu. Aku tetap menjaga diriku seutuhnya aku.

Hey? Hanya karena tulisan ini mirip dengan kasusmu bukan berarti semua tentangmu. Hanya karena aku menyukai setiap khayalku bukan berarti kau harus menyerupai itu. Nikmati waktumu, juga ku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s