Aku ditemukan

Berjalan lurus kedepan, melangkah dengan keraguan. Sepatu basah yang kukenakan tidak lagi nyaman. Matahari kembali setelah sembunyi dari rinai hujan. Aku masih tetap berjalan, berlari ketika lelah sudah hilang sebagian. Melihat sekitar satu-satunya hal yang menghibur di perjalanan. Melihat kebelakang sesekali, menatap langkah dan jalur yang telah ditempuh. Rasanya masih tidak terlalu jauh. Masih dapat dipijak bayang pada sepatu.

Salahku tidak menyiapkan bekal maupun uang, hanya tiket pergi dan jadwal beberapa hari kedepan untuk pulang. Sampai disini sudah gelap dengan cahaya lampu sebagai penerang. Masih ramai, seperti tidak pernah mati mereka bilang. Kursi di ujung jalan yang kosong menjadi persinggahan kali ini. Duduk menunggu semua pergi. Sayangnya, aku bisa istirahat saat hampir pagi. Kemudian aktivitas mereka mulai kembali.

Tiga puluh menit terlelap, sebuah sapa menjaga. Tidur saja di mushola, tidak apa. Begitu katanya. Halus menerima dan akan istirahat disana esok, tentu saja. Ini sudah pagi.

Beruntung sandal kubawa. Bisa dijemur sepatu setelah asik berlari sendiri. Tidak kupikirkan, bila memang ia milikku pasti tidak akan pergi jauh. Jadi biarkan saja. Sementara, aku masih terus berjalan. Tanah lapang dengan dua pohon rindang dibagian depan dan belakang. Seperti gerbang, pintu masuk para tamu terundang, mungkin? Tidak tahu, hanya saja, terlalu terik untuk ramai berkumpul. Memilih menyingkir ke pinggir, waktunya makan siang bagi yang tidak menjalankan.

Merogoh saku, lima lembar lima ribuan. Satu hari dua liter sebagai modal bertahan dipelarian. Berharap semoga saja semua dapat kembali berpikir atas semua tindakkan; harapan kosong. Beruntungnya lagi, setiap dini hari dan petang hari kedua disini selalu tersedia makanan. Aku aman.

Bodoh memang, mendekati sore selalu berlarian. Menantang mentari ataupun hujan. Tidak peduli. Yang aku tau, aku ramah selama berada dalam lingkungan dan mereka akan berlaku baik. Peluh dalam terik, peluh dalam rintik, sembunyikan air mata yang mengalir. Tidak tau ini dimana, aku tetap berlari. Tiket pulangku masih belum berlaku hari ini, jadi kenapa tidak nikmati? Lagipula ponselku mati, bukan sengaja namun lupa membuat semua tertinggal; kenangan tidak.

Melewati benteng dengan halaman yang dipagari. Tidak boleh kesana karena bukan objek utama yang harus dikunjungi. Benteng yang diubah menjadi Museum, dekat namun belum sempat kupijak kaki kedalam. Tempat bagi para penyuka cerita namun malas membaca. Murah namun sepi pengunjung yang senantiasa melihat reka masa lalu. Kisah bagaimana hari ini dapat dinikmati oleh para pewaris negeri. Dua, tiga yang terpajang. Belum sempat beranjak, terdengar nama diserukan.

Toleh kucari asal suara, teriak untuk jangan pernah pergi sendiri kembali. Kaos putih dengan cardigan hitam menutupi pergelangan. Mengenakan rok dan sepatu biru gelap. Rambut pendek terlindungi topi para pemancing ikan. Mengejarku ke tempat tidak terkenalkan, berterimakasih karena tidak melarang juga memarahi karena sudah kelewatan. Kelelahan, menghampiri dan menggapai jemari. Tidak kubiarkan kau lepas lagi. Marah dengan menggembungkan pipi.

Hey? Aku masih ingat saat pertama aku terpana melihatmu mengibaskan rambut panjangmu. Itu manis. Kau tampak cantik.

Pipi memerah, senyum terukir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s