Janji

Terduduk, coba menggapai mengajak untuk ikut. -- Boleh kita bicarakan ini berdua? Maaf bila terkesan menunda-nunda, segala hal yang memang sudah ditetapkan dari petunjuk-Nya. Memilih menyegerakan atau meninggalkan. Semua hal terjadi begitu cepat, dan aku amat sangat minta maaf bila gerakku mengikuti alurnya terlalu lambat, bahkan terlihat seperti melawan arus. Mula dari pertemuan, hingga keputusan. … Continue reading Janji

Advertisements

Pantai

Mataku masih tertutup dengan sebuah kain, entah berapa lama lagi. Yang aku tahu, jika tiga hari dalam keadaan gelap dan tanpa cahaya yang terpancar pada mata, segera ku buta. Pijakkannya makin berat, tidak terstuktur, dan sepertinya memang sudah sampai. Terbuka kain penutup, "Hey, bukankah ini berlebihan?" Terhampar kain merah gelap sebagai alas dengan satu meja … Continue reading Pantai

Puncak

Terbuka mata yang sedari petang kemarin terpejam perlahan. Kepala yang masih terasa sakit akibat mabuk kala mentari masih di ubun-ubun. Minuman yang entah apa alasannya dibeli saat perjalanan menuju ke tempat ini. Dingin yang menyergap buat gaya tarik akan tilam menguat disertai selimut hangat. Kembali meringkuk, guling terpeluk. Sebuah gerak di balik selimut balik memeluk. … Continue reading Puncak

Kamu siapa?

Dalam ramai yang sudah bergerumul pada satu waktu, lewat tiga puluh menit kedatangan karena perut yang menggerutu. Sarapan yang dirapel dengan makan siang, magh siaga menyergap dan pertunjukkan harus dimulai segera. Tari-tarian diiringi musik, mulai dari tradisional hingga masih segar di telinga. "Maaf aku terlambat."  Manis kala itu teringat. Kencan pertama dengan rogoh kocek seadanya … Continue reading Kamu siapa?

Ayun, mengayun

Ibadah pertama hari itu telah usai, panjatan doa yang entah apa diharapkan olehnya; terbata. Mulutnya yang beberapa kali menguap, sepanjang perjalanan khawatir stasiun tujuannya terlewat. Tertidur beberapa saat dan kembali terjaga. Terlihat matanya yang mulai berkaca-kaca, bukan karena kantuk namun waktu terus berjalan.  Keluar seperti biasa ingin menyendiri di pagi buta, berjalan menyusuri setapak. Apa … Continue reading Ayun, mengayun

Boleh?

Senyummu bagai buah apel yang baru saja dipetik, sengaja ataupun tidak tercelup dalam stoples madu. Manis, kecut tersemat pada bibirku yang tengah merajuk pun lenyap merasakannya. Pria sederhana yang mampu merasakan apa-apa yang berada di sekitar dan mampu menyesuaikan diri dalam tiap-tiap situasi. Geram ketika salahku melewati batas wajar, kening yang terketuk dan berlanjut pada … Continue reading Boleh?

Usang

Alas kaki yang melindung beberapa tahun belakangan, hitam yang tengah memudar menjadi keabuan. Jahitan yang mulai lepas seiring waktu berjalan. Mengorbankan kehormatannya demi menjalankan tugas menaungi sang tuan. Temani gundah saat perjalanan, siap tempuh segala medan. Entah itu berlari atau sekedar melangkah satu demi satu menelusuri jalan. Tali-temali yang perlahan putus dan mulai terurai dari … Continue reading Usang